Jumat, 12 Juli 2013

Senyum di Balik Tangis ... “Kisah Tukang Bakso”




Tuhan selalu memiliki rencana pada semua yang terjadi dalam hidup kita..
Ia memiliki rencana di balik tawa lepas kita..
Ia memiliki rencana di balik senyum manis kita..
Ia memiliki rencana di balik kekecewaan kita..
Ia memiliki rencana di balik sesuatu yang membuat kita ingin marah..
Ia memiliki rencana di balik isak tangis kita..
Ia tetap memiliki rencana di balik penderitaan kita..

Sesenang apapun kita, sepahit apapun hidup kita.. Ia punya rencana di balik itu semua..

Ada sebuah kisah yang diceritakan ayahku kepadaku. Kali ini aku ingin membagikannya, dan aku berharap cerita ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua.

Ada dua orang tukang bakso berangkat dari kontrakkan untuk berjualan bersama. Tukang bakso pertama adalah orang yang rajin beribadah, rajin berdoa, selalu setia mengikuti ajaran agama, dan selalu berbuat baik kepada sesama. Tukang bakso yang satu lagi adalah orang yang menganggap kekayaan dunia lebih penting. Ia malas beribadah, ia malas berdoa. Alasannya simple, capek kerja!


Saat mereka berangkat bersama, tiba-tiba ada sepeda motor yang menyerempet gerobak tukang bakso pertama yang bernama Pak Udin. Sementara itu tukang bakso kedua Pak Bejo selamat. Gerobak bakso Pak Udin terdorong sehingga masuk ke parit. Bakso-baksonya tumpah, sebagian piring pecah, dan sambelnya berceceran kemana-mana. Pak Udin selamat, ia shock melihat keadaan gerobaknya yang kacau balau.

Pak Bejo mencoba menenangkan Pak Udin. Namun ia tidak berusaha membantu Pak Udin. Mengingat hari semakin sore, ia khawatir jika terlambat berjualan maka nanti baksonya tak akan laku. Ia meninggalkan Pak Udin yang lagi terdiam dengan perasaan kacau balau.

Setelah Pak Bejo pergi, Pak Udin menutup wajahnya dan menangis. “Tuhan, rasanya aku selalu berbuat baik kepada orang-orang disekitarku. Bukankah aku lebih rajin beribadah dari pada Bejo Tuhan? Bukankah aku lebih rajin berdoa? Tapi kenapa Tuhan jahat kepadaku? Jika begini keadaan gerobakku, apa yang akan aku kasih kepada anak istriku saat pulang nanti? Mereka pasti akan kecewa aku tidak bawa uang Tuhan!!”. Setelah menangis dan marah-marah sendiri, tak lama ada anak muda lewat dan membantunya merapihkan gerobaknya, lalu ia pulang dengan perasaan kacau balau.

Pak Bejo dalam perjalanan menuju perumahan tempat ia dan pak Udin biasanya berjualan. Namun saat sedang ada pembeli dan ia lgi masak, tiba-tiba rumah di dekat Pak Bejo berjualan terbakar. Pak Bejo panik. Saat posisi penting begitu, ia masih sempat berusaha menyelamatkan gerobaknya. Namun sayang, ia terlambat. Gerobaknya terbakar meledak, dan ia pun ikut meninggal.

Kabar meninggalnya Pak Bejo sampai ke telinga Pak Udin beberapa jam kemudian. Pak Udin begitu kaget mendengar kabar tersebut dan ia pun sujud di tanah dan berdoa.. “Tuhan, sekarang aku tahu kenapa kau masukkan gerobakku ke parit. Kau mencegahku pergi ke perumahan itu untuk menyelamatkan ku Tuhan. Sekiranya aku di perumahan itu mungkin aku sudah meninggal. Anak dan istriku akan menderita selamanya. Namun kecebur parit hanya meninggalkan kesedihan sementara, karena gerobak ini masih bisa diperbaiki, dan besok aku masih bisa bekerja untuk anak dan istriku lagi. Terimakasih banyak Tuhan untuk cintamu padaku.. Terimakasih untuk rencanamu yang indah ini”.


Jika marah dan mengeluh pada Tuhan bukan solusi dalam setiap masalah kita, mengapa kita tidak belajar untuk selalu bersyukur sepahit apapun keadaan kita, agar pahit itu terasa manis, dan kita bisa segera dipulihkan Nya? GBU

1 komentar: